JAKARTA, SeeRightNews.com – Di tengah simpang siur informasi mengenai blokade total di Selat Hormuz, Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, akhirnya angkat bicara. Dalam sebuah pertemuan eksklusif di kediamannya di Jakarta, Sabtu (14/3/2026), Boroujerdi memberikan klarifikasi krusial: Jalur nadi energi dunia tersebut tetap dibuka, namun dengan syarat yang sangat ketat dan tidak dapat ditawar.

Pernyataan ini muncul sebagai respons atas kekhawatiran global terhadap pasokan minyak dunia pasca-serangan udara masif Amerika Serikat dan Israel ke daratan Iran pada akhir Februari lalu.

BACA JUGA: Ketika Henry Ford menghantam dan Mendominasi Yahudi

Protokol Perang: Siapa yang Boleh Lewat?

Duta Besar Boroujerdi menegaskan bahwa Iran masih menjamin navigasi internasional di Selat Hormuz, namun hanya bagi negara-negara yang menjaga netralitas dan mematuhi “Protokol Lalu Lintas Masa Perang”.

“Selat Hormuz tidak ditutup. Jalur ini tetap terbuka bagi negara-negara yang tidak bekerja sama dengan pihak musuh dan mereka yang mematuhi protokol keamanan kami, khususnya di tengah situasi konflik saat ini,” tegas Boroujerdi.

Ada dua kriteria utama yang menjadi “lampu hijau” dari Teheran:

  1. Non-Kooperasi dengan Musuh: Negara tersebut tidak mengizinkan wilayahnya digunakan oleh AS atau Israel untuk menyerang Iran.

  2. Kepatuhan Teknis: Mengikuti prosedur pemeriksaan dan identifikasi ketat yang ditetapkan oleh militer Iran di wilayah perairan tersebut.

BACA JUGA: PBB Desak Jakarta Usut Tuntas Teror Air Keras Terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus

Indonesia Jadi Contoh: Keberhasilan Dua Kapal Melintas

Sebagai bukti bahwa Iran tidak melakukan blokade buta, Boroujerdi mengungkapkan bahwa dua kapal berbendera Indonesia baru-baru ini berhasil melintasi Selat Hormuz dengan aman setelah mengikuti protokol yang ditetapkan. Hal ini menjadi sinyal bahwa negara-negara sahabat yang tidak terlibat dalam koalisi agresor tetap mendapatkan akses.

Namun, ia juga memberikan peringatan keras kepada komunitas internasional:

“Jika wilayah ini tidak aman bagi kami, maka tidak akan aman bagi siapapun. Keamanan Selat Hormuz adalah harga mati bagi kedaulatan Iran.”

BACA JUGA: Separuh Warga AS Tuding Gedung Putih Jadi Biang Kerok Lonjakan Harga Bensin!

Duka dari Minab: Mengenang 175 Siswi Korban Agresi

Pernyataan diplomatik ini disampaikan dalam suasana haru usai acara santunan kepada 200 siswi Muslim Indonesia di Jakarta. Acara tersebut digelar khusus untuk mengenang tragedi kemanusiaan yang terjadi di Kota Minab, Provinsi Hormozgan, Iran selatan.

Dunia internasional mencatat bahwa pada serangan 28 Februari lalu, rudal gabungan AS dan Israel menghantam Sekolah Dasar Khusus Putri Shajareh Tayyebeh. Serangan biadab tersebut merenggut nyawa 175 siswi dan melukai lebih dari 95 anak lainnya.

“Musuh imperialis dan Zionis terus menargetkan fasilitas sipil, rumah warga, dan sekolah. Kami tidak akan berkompromi. Pihak musuh harus diberi pelajaran keras agar mereka mengerti batasan,” ujar Dubes Boroujerdi dengan nada getir namun tegas.

BACA JUGA: G7 Gelar Rapat Darurat, IEA Siapkan Operasi Banjir Minyak Terbesar dalam Sejarah!

Strategi Anti-Kompromi Teheran

Boroujerdi memastikan bahwa Iran akan terus melakukan perlawanan selama agresi asing belum dihentikan. Iran memandang serangan terhadap warga sipil mereka sebagai kejahatan perang yang melegitimasi segala bentuk tindakan balasan di wilayah strategis mereka, termasuk di Selat Hormuz.

Posisi Iran saat ini sangat jelas: mereka memegang kendali atas “keran” energi dunia sebagai alat tawar diplomatik dan pertahanan. Dengan mengontrol Selat Hormuz, Iran mampu menekan ekonomi negara-negara agresor yang sangat bergantung pada stabilitas pasokan minyak mentah.

BACA JUGA: Mojtaba Khamenei Resmi Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, Tantang Balik Ancaman Pembunuhan AS-Israel!

Analisis SeeRight News: Diplomasi di Ujung Tanduk

Pernyataan Dubes Boroujerdi di Jakarta menunjukkan bahwa Iran sedang menggunakan strategi “pilih-pilih kasih” di laut. Dengan mengizinkan kapal negara sahabat seperti Indonesia untuk lewat, Teheran ingin merusak kesolidan sanksi internasional yang coba dibangun oleh Washington.

Namun, penerapan “Protokol Perang” ini tetap menjadi risiko besar bagi stabilitas harga minyak dunia. Ketidakpastian mengenai kapal mana yang dianggap “bekerja sama dengan musuh” oleh Iran dapat memicu premi asuransi pengiriman meroket, yang pada akhirnya akan tetap menaikkan harga BBM di pasar global.

Kesimpulan: Pesan untuk Dunia

Iran melalui Duta Besarnya di Jakarta telah mengirimkan pesan yang jernih: Selat Hormuz adalah milik kedaulatan mereka, dan dunia harus menghormati aturan main Teheran jika ingin perdagangan energi tetap berjalan. Di sisi lain, tragedi di Kota Minab menjadi pengingat pahit bahwa di balik perebutan pengaruh ini, ada nyawa warga sipil yang menjadi korban.

Kini, bola panas ada di tangan komunitas internasional. Apakah mereka akan mematuhi protokol Iran, atau justru mencoba menantang kekuatan laut Teheran dengan risiko kelumpuhan ekonomi total?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *