WASHINGTON D.C., SeeRightNews.com – Ambisi geopolitik Presiden Donald Trump di Timur Tengah kini memicu “api” di rumah sendiri. Berdasarkan laporan terbaru yang dirilis oleh Axios pada Kamis (12/3/2026), sebuah jajak pendapat nasional menunjukkan bahwa mayoritas rakyat Amerika Serikat mulai kehilangan kesabaran terhadap dampak ekonomi dari konflik AS-Iran.

Hampir separuh dari populasi Negeri Paman Sam secara terang-terangan menuding kebijakan luar negeri Trump sebagai penyebab utama meroketnya harga bensin, yang kini mencekik pengeluaran rumah tangga warga kelas menengah Amerika.

BACA JUGA: G7 Gelar Rapat Darurat, IEA Siapkan Operasi Banjir Minyak Terbesar dalam Sejarah!

BACA JUGA: Mojtaba Khamenei Resmi Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, Tantang Balik Ancaman Pembunuhan AS-Israel!

Hasil Survei: Siapa yang Harus Bertanggung Jawab?

Data yang dihimpun oleh Morning Consult mengungkapkan potret kemarahan publik yang nyata. Dari survei yang dilakukan terhadap 1.002 orang dewasa di seluruh AS, ditemukan bahwa 74% responden merasa harga bahan bakar telah meningkat secara tidak wajar sepanjang tahun 2026.

Respons publik terhadap siapa yang harus disalahkan terpecah, namun condong ke satu nama:

  • 48% menyalahkan pemerintahan Trump: Menilai agresi militer ke Iran adalah blunder ekonomi.

  • 16% menyalahkan perusahaan minyak dan gas: Menganggap adanya praktik ambil untung di tengah krisis.

  • 13% menyalahkan kekuatan pasar global: Melihat faktor geopolitik luar negeri sebagai pemicu.

  • 11% masih menyalahkan mantan Presiden Joe Biden: Merujuk pada sisa kebijakan energi masa lalu.

Dengan margin kesalahan hanya 3 poin persentase, hasil ini menjadi sinyal merah bagi Trump menjelang tahun politik yang krusial.

BACA JUGA: Ketika Henry Ford menghantam dan Mendominasi Yahudi

BACA JUGA: Skenario AS Perang 100 Hari – Dokumen Pentagon Bocor, AS Terjebak dalam Palung Konflik Iran yang Tak Terduga!

Statistik yang Menghantam Dompet Rakyat

Realitas di lapangan memang pahit. Per 12 Maret 2026, rata-rata harga bensin di Amerika Serikat meroket hingga 3,6 dolar AS per galon. Angka ini menunjukkan kenaikan signifikan dibandingkan harga sebelum serangan terhadap Iran yang masih berada di angka 2,9 dolar AS per galon.

Bagi warga AS, kenaikan sekitar 24% dalam waktu singkat ini bukan sekadar statistik, melainkan beban nyata yang mengurangi daya beli mereka terhadap kebutuhan pokok lainnya. Lonjakan ini dipicu langsung oleh terhentinya arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, menyusul aksi saling balas rudal antara AS-Israel dan Iran sejak akhir Februari lalu.

“Harga Kecil” untuk Mengubah Sejarah?

Di tengah jeritan publik, sikap dingin justru ditunjukkan oleh petinggi Gedung Putih. Menteri Energi AS, Chris Wright, menyatakan pekan lalu bahwa kenaikan harga ini hanyalah “peristiwa sementara”.

Wright bahkan mengeluarkan pernyataan provokatif yang memicu perdebatan moral di seluruh penjuru negeri. Ia menyebut bahwa mahalnya harga energi adalah “harga kecil” yang harus dibayar demi operasi militer yang diklaimnya “akan mengubah arah sejarah.”

Pernyataan ini dianggap sangat tidak sensitif oleh para aktivis sosial dan pengamat ekonomi.

“Bagi jutaan warga Amerika yang harus memilih antara mengisi tangki bensin atau membeli bahan makanan, kenaikan ini bukanlah ‘harga kecil’. Ini adalah krisis kesejahteraan yang dipaksakan oleh kebijakan perang,” tulis salah satu kolom opini di media lokal Washington.

BACA JUGA: Usai Perang AS Rugi Rp33,7 Triliun Hanya dalam 4 Hari! Radar Canggih hingga Pesawat Tempur Jadi Arang

Blokade Selat Hormuz: Jantung Energi yang Terhenti

Akar masalah dari inflasi energi ini adalah lumpuhnya Selat Hormuz. Setelah agresi gabungan AS-Israel ke Teheran pada 28 Februari yang menelan korban sipil, Iran membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di Timur Tengah dan memasang ranjau di jalur navigasi energi tersebut.

Hampir sepertiga pasokan gas alam cair dan seperlima konsumsi minyak global biasanya melintasi selat ini. Ketika jalur ini terhenti, pasar global bereaksi dengan panik, mengirimkan gelombang kejutan harga hingga ke pompa-pompa bensin di pelosok Amerika.

Analisis SeeRight News: Judi Politik Trump di Tengah Inflasi

Tim redaksi SeeRight News memandang bahwa Trump sedang bermain api dengan stabilitas domestiknya. Strategi “America First” yang selama ini diagung-agungkan kini tampak bertolak belakang dengan realitas di mana kebijakan luar negerinya justru memiskinkan rakyat Amerika sendiri.

Survei ini membuktikan bahwa patriotisme militer memiliki batas ketika berhadapan dengan kenyataan ekonomi yang pahit. Jika harga bensin terus merangkak naik menuju angka 4 dolar per galon, dukungan basis massa Trump di pedesaan—yang sangat bergantung pada kendaraan pribadi—bisa runtuh seketika.

Kesimpulan: Krisis Kepercayaan yang Mendalam

Lonjakan harga bensin di tahun 2026 bukan sekadar masalah logistik, melainkan manifestasi dari ketidakpuasan publik terhadap gaya kepemimpinan agresif Donald Trump. Di saat pemerintah mengklaim sedang “mengubah sejarah,” rakyat Amerika justru merasa sejarah sedang berulang: perang luar negeri yang mahal dan inflasi yang merusak tatanan sosial di dalam negeri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *