ANKARA, SeeRightNews.com – Badai perang yang berkecamuk di Timur Tengah antara Iran melawan aliansi Amerika Serikat-Israel kini memicu “gempa” ekonomi di negara tetangga. Pemerintah Turki secara resmi mengumumkan kebijakan proteksionisme ekstrem dengan membatasi ekspor berbagai komoditas pangan utama.
Langkah drastis ini diambil Presiden Recep Tayyip Erdogan untuk melawan lonjakan harga akibat spekulasi pasar dan gangguan rantai pasok global yang kian parah. Ankara kini memilih untuk “mengunci” stok pangannya sendiri demi memastikan rakyat Turki tidak kelaparan di tengah melambungnya inflasi dunia.
Daftar Komoditas yang “Diharamkan” Keluar dari Turki
Kementerian Pertanian dan Perhutanan Turki, bekerja sama dengan Kementerian Perdagangan, telah merilis daftar hitam komoditas yang dilarang atau dibatasi ekspornya. Kebijakan ini berlaku efektif segera untuk menstabilkan harga di pasar domestik.
Komoditas yang terkena pembatasan ketat meliputi:
-
Sumber Protein: Daging ayam dan telur.
-
Biji-bijian & Kacang-kacangan: Kacang arab (chickpeas) dan berbagai jenis kacang lainnya.
BACA JUGA: Iran Luncurkan True Promise 4: Rudal Super Berat Hantam Tel Aviv dan Pangkalan AS di 3 Negara
Sementara itu, untuk komoditas strategis lainnya, pemerintah Turki memutuskan untuk tidak mengeluarkan izin ekspor baru bagi:
-
Daging sapi dan kambing.
-
Minyak bunga matahari dan biji minyak.
-
Kacang lentil hijau dan lentil merah.
Perang Melawan Inflasi 31,53%
Bukan tanpa alasan Ankara mengambil langkah tidak populer ini. Data dari Institut Statistik Turki (TUIK) menunjukkan tingkat inflasi tahunan telah menyentuh angka 31,53 persen hingga akhir Februari 2026. Angka ini diprediksi akan terus merangkak naik jika pasokan pangan domestik bocor ke pasar internasional yang sedang haus komoditas akibat perang.
“Langkah ini dimaksudkan untuk menjaga inflasi tetap terkendali, mendukung produsen lokal, dan yang terpenting, menjaga keseimbangan harga agar tetap terjangkau oleh masyarakat bawah,” tulis pernyataan resmi Kementerian Pertanian Turki kepada media.
BACA JUGA: Ketika Selat Hormuz Jadi Ladang Ranjau dan Diplomasi Menjadi Satu-satunya Nafas Dunia
Operasi Impor: Nol Tarif untuk Minyak Bunga Matahari
Selain mengunci pintu ekspor, Turki juga membuka lebar pintu impor melalui pemotongan tarif besar-besaran. Strategi ini diambil untuk menutupi kekurangan pasokan akibat gangguan logistik di Laut Merah dan Teluk Persia.
Berikut adalah rincian “diskon” tarif impor darurat Turki:
-
Minyak Bunga Matahari: Tarif 0 persen (Nol) untuk impor hingga 1 juta ton sampai akhir Mei 2026.
-
Lentil Hijau: Tarif dipangkas dari 19,3% menjadi 10%.
-
Lemon: Diskon drastis dari 54% menjadi hanya 10%.
-
Sereal Haver (Oat): Dari tarif selangit 130%, kini turun menjadi 30% khusus untuk industri biskuit dan muesli.
Industri Terpukul: Pabrik Meliburkan Buruh
Perang Iran-AS tidak hanya memukul meja makan warga, tetapi juga lantai pabrik di Turki. Gangguan pelayaran maritim akibat blokade di Selat Hormuz dan risiko keamanan di jalur Mediterania telah melambungkan biaya logistik hingga 70 persen.
Laporan dari surat kabar Ekonomim menyebutkan bahwa kenaikan harga bahan baku mentah, terutama polimer (plastik) yang melonjak hingga 60-80 persen, telah memaksa banyak pabrik di Turki menghentikan produksi. Dampaknya? Ribuan buruh terpaksa dirumahkan atau diliburkan lebih awal karena perusahaan tidak sanggup menanggung beban operasional yang meroket.
Geopolitik yang Menyakitkan: Mengapa Turki Sangat Terdampak?
Sebagai negara yang menjadi jembatan antara Eropa dan Timur Tengah, Turki berada dalam posisi terjepit. Di satu sisi, Turki bergantung pada stabilitas kawasan untuk ekspor industri manufakturnya. Di sisi lain, ketegangan antara Iran, AS, dan Israel membuat jalur perdagangan energi dan pangan menjadi sangat berisiko.
Jika perang berlanjut hingga kuartal kedua 2026, Turki diprediksi akan memperluas pembatasan ekspornya ke sektor lain, termasuk tekstil dan material konstruksi, guna mengamankan kebutuhan dalam negeri.
Analisis SeeRight News: Efek Domino ke Pasar Global
Langkah Turki ini dipastikan akan memicu kenaikan harga pangan di negara-negara pengimpor, terutama di wilayah Timur Tengah lainnya dan sebagian Eropa yang mengandalkan kacang-kacangan dan daging ayam dari Ankara. Proteksionisme adalah “obat pahit” yang jika dilakukan secara massal oleh banyak negara, akan memicu krisis pangan global yang lebih besar.