ISTANBUL, SeeRightNews.com – Ambisi militer Amerika Serikat di Timur Tengah harus dibayar dengan harga yang sangat mahal. Hanya dalam kurun waktu empat hari sejak agresi dimulai pada Sabtu (28/2/2026), militer AS dilaporkan telah kehilangan aset tempur dan infrastruktur strategis dengan nilai fantastis mencapai hampir 2 miliar dolar AS (setara Rp33,7 triliun).
Data yang dihimpun tim SeeRight News menunjukkan bahwa serangan rudal dan drone presisi Iran telah berhasil melumpuhkan mata dan telinga pertahanan AS di kawasan Teluk, memicu kerugian finansial terbesar dalam operasi militer AS dalam satu dekade terakhir.
Radar Senilai Rp18,6 Triliun Lumpuh: Mata Peringatan Dini AS Buta
Kerugian tunggal terbesar berasal dari serangan yang menghantam Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar. Sistem radar peringatan dini AN/FPS-132 milik AS, yang merupakan komponen vital untuk mendeteksi ancaman rudal jarak jauh, hancur total akibat hantaman rudal Iran.
Sistem radar ini bukan sekadar alat deteksi biasa; ia adalah investasi teknologi senilai 1,1 miliar dolar AS (Rp18,6 triliun). Pemerintah Qatar telah mengonfirmasi bahwa fasilitas tersebut mengalami kerusakan berat, yang secara praktis membuat sistem pertahanan udara AS di kawasan tersebut kehilangan kemampuan deteksi dini untuk sementara waktu.
Tragedi ‘Friendly Fire’ di Kuwait: 3 Jet F-15E Hancur
Nasib sial juga menimpa Angkatan Udara AS pada Minggu (1/3). Di tengah kepanikan menghadapi serangan udara Iran, sistem pertahanan udara Kuwait dilaporkan melakukan insiden salah tembak (friendly fire).
Tiga pesawat tempur F-15E Strike Eagle milik AS jatuh setelah dihantam peluru kendali sekutunya sendiri. Meski keenam awak pesawat berhasil selamat, kerugian material tidak dapat dihindari. Biaya penggantian ketiga jet tempur canggih ini diestimasi mencapai 282 juta dolar AS (Rp4,7 triliun).
Terminal Satelit dan THAAD: Jaringan Komunikasi Terputus
Iran juga membuktikan ketajaman intelijen mereka dengan menargetkan pusat-pusat saraf komunikasi AS. Serangan di markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Manama, Bahrain, berhasil menghancurkan dua terminal komunikasi satelit AN/GSC-52B senilai 20 juta dolar AS (Rp337 miliar).
Tidak berhenti di situ, sistem pertahanan rudal paling prestisius milik AS, THAAD (Terminal High Altitude Area Defense), yang ditempatkan di Uni Emirat Arab (UEA), juga mengalami kerusakan parah. Citra satelit intelijen sumber terbuka (OSINT) menunjukkan bahwa komponen radar AN/TPY-2 pada sistem THAAD terkena serangan langsung. Kerugian pada komponen ini saja diperkirakan mencapai 500 juta dolar AS (Rp8,4 triliun).
BACA JUGA: Houthi Siap Mengamuk di Bab Al-Mandab Atas Instruksi Teheran
Daftar Lokasi Militer AS yang Menjadi ‘Bulan-bulanan’
Sejauh ini, sedikitnya tujuh lokasi strategis militer Amerika Serikat di Timur Tengah telah menjadi sasaran empuk serangan balasan Iran:
-
Bahrain: Markas Armada Kelima (Pusat Kendali Laut).
-
Kuwait: Camp Arifjan, Pangkalan Udara Ali Al Salem, dan Camp Buehring.
-
Irak: Pangkalan Erbil (Pangkalan militer krusial di wilayah Utara).
-
UEA: Pelabuhan Jebel Ali (Pelabuhan persinggahan terbesar AL AS).
-
Qatar: Pangkalan Udara Al Udeid (Pusat Operasi Udara).
Misi Diplomatik Tak Luput dari Serangan
Ketegangan ini juga merembet ke ranah diplomatik. Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, kompleks kedutaan besar AS di Arab Saudi, Kuwait, dan UEA menjadi target serangan langsung:
-
Riyadh, Arab Saudi: Kedutaan Besar AS dihantam dua serangan drone. Laporan menyebutkan bahwa Stasiun CIA yang berada di dalam kompleks tersebut ikut terkena dampak ledakan.
-
Kuwait City, Kuwait: Serangan rudal dan drone digambarkan sangat “brutal”, memaksa pihak kedutaan mengevakuasi seluruh staf non-esensial dan menutup operasional hingga waktu yang tidak ditentukan.
-
Dubai, UEA: Area parkir Konsulat Jenderal AS dihantam drone yang memicu kebakaran hebat, meski tidak dilaporkan adanya kerusakan struktur utama gedung.
BACA JUGA: Teheran Berdarah: Benarkah Trump Menjual Nyawa Demi Rating Populeritas?
Analisis SeeRight News: AS di Titik Nadir Keamanan
Angka Rp33,7 triliun bukan sekadar nilai material, melainkan simbol dari rapuhnya hegemoni militer AS di bawah bayang-bayang teknologi rudal Iran yang kian presisi. Kehancuran radar peringatan dini dan sistem SATCOM menunjukkan bahwa Iran sedang menjalankan strategi “A2/AD” (Anti-Access/Area Denial) untuk mengusir kekuatan AS dari Timur Tengah.
Jika kerugian ini terus bertambah, pemerintahan Donald Trump akan menghadapi tekanan luar biasa dari pembayar pajak di Amerika Serikat yang mempertanyakan kegunaan perang mahal ini di tengah krisis ekonomi domestik.