OSAKA, SeeRightNews.com – Gelombang kemarahan atas eskalasi militer di Timur Tengah kini menjalar hingga ke jantung Asia Timur. Di Jepang, aksi protes massa menentang agresi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Republik Islam Iran telah memasuki pekan kedua. Kota Osaka menjadi titik panas terbaru di mana ratusan warga sipil menyuarakan penolakan keras terhadap apa yang mereka sebut sebagai “Imperialisme Amerika.”

Laporan langsung dari koresponden kami di lapangan menunjukkan bahwa sentimen anti-perang di Jepang kini tidak hanya menyasar Washington, tetapi juga mulai mengkritik kebijakan domestik pemerintah Jepang yang dianggap terlalu mengekor pada ambisi militer Donald Trump.

BACA JUGA: Eropa Turun Gunung! Inggris, Prancis, dan Jerman Siapkan Pasukan Operasi Hancurkan Rudal di Jantung Iran

Genderang Protes di Jalanan Osaka

Sabtu (7/3/2026), jalanan protokol di Osaka berubah menjadi panggung protes yang riuh. Para demonstran bergerak dalam barisan panjang, memukul drum dengan ritme yang konstan sebagai simbol peringatan akan bahaya perang global. Spanduk-spanduk besar membentang, membawa pesan-pesan tajam yang menghiasi langit kota:

  • “Kami mengutuk agresi AS dan Israel terhadap Iran!”

  • “Hentikan pemboman Iran oleh Imperialisme Amerika!”

  • “Tidak untuk Perang, Ya untuk Kemanusiaan!”

Aksi ini bukan sekadar luapan emosi sesaat. Protes telah berlangsung setiap hari di berbagai prefektur Jepang sejak akhir pekan lalu, menandakan adanya keresahan kolektif warga Jepang akan potensi dampak ekonomi dan keamanan jika perang ini meluas menjadi konflik dunia.

BACA JUGA: Ketika Henry Ford menghantam dan Mendominasi Yahudi

Kritik Tajam terhadap Aliansi Takaichi-Trump

Yang menarik dari aksi kali ini adalah keberanian para demonstran untuk mengkritik kepemimpinan nasional mereka sendiri. Beberapa poster menampilkan karikatur Presiden AS Donald Trump berdampingan dengan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi.

Para aktivis menuduh PM Takaichi telah menggadaikan kedaulatan moral Jepang dengan mendukung kebijakan “serangan preemptif” AS yang kontroversial. Mereka menuntut pemerintah Jepang mengambil posisi netral dan aktif mendorong deeskalasi, mengingat ketergantungan energi Jepang yang sangat tinggi pada stabilitas kawasan Teluk.

Tragedi 28 Februari: Pemicu Amarah Dunia

Akar dari gelombang protes ini adalah operasi militer udara masif yang dilancarkan AS dan Israel ke Teheran pada Sabtu (28/2). Serangan tersebut tidak hanya menghancurkan infrastruktur strategis, tetapi juga mengakibatkan jatuhnya banyak korban sipil yang tak berdosa.

Puncak dari tragedi tersebut adalah terkonfirmasinya kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada hari pertama operasi. Kejadian ini mengejutkan dunia dan memaksa Iran menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari. Sebagai balasan, Teheran meluncurkan ratusan rudal balistik ke fasilitas militer AS dan wilayah Israel, menciptakan “lingkaran setan” kekerasan yang kini mengancam stabilitas global.

BACA JUGA: Skenario AS Perang 100 Hari – Dokumen Pentagon Bocor, AS Terjebak dalam Palung Konflik Iran yang Tak Terduga!

Kebohongan Narasi “Nuklir” dan Agenda Perubahan Rezim

Para pengunjuk rasa di Jepang juga menyoroti perubahan narasi yang dilakukan oleh Washington. Awalnya, AS dan Israel berdalih bahwa serangan ini diperlukan untuk melumpuhkan program nuklir Iran yang dianggap mengancam. Namun, seiring berjalannya operasi, tujuan asli mulai terkuak: Perubahan Kekuasaan (Regime Change) di Iran.

“Ini bukan soal nuklir, ini soal pemaksaan kehendak politik global,” ujar salah satu orator di Osaka. Ketidakjujuran narasi ini menjadi bahan bakar utama bagi kelompok-kelompok hak asasi manusia dan aktivis perdamaian di Jepang untuk terus menekan pemerintah agar menarik dukungan diplomatik dari operasi militer tersebut.

Dukungan Internasional: Kecaman dari Moskow

Sentimen warga Jepang ini sejalan dengan posisi beberapa kekuatan besar dunia lainnya. Presiden Rusia Vladimir Putin secara terbuka menyebut pembunuhan terhadap Khamenei sebagai “pelanggaran sinis terhadap hukum internasional.” Kementerian Luar Negeri Rusia pun terus mendesak penghentian permusuhan segera sebelum situasi menjadi tidak terkendali.

Bagi warga Jepang, yang memiliki memori kolektif tentang kehancuran akibat perang, eskalasi di Iran dipandang sebagai ancaman nyata bagi tatanan dunia yang berbasis aturan.

BACA JUGA: Usai Perang AS Rugi Rp33,7 Triliun Hanya dalam 4 Hari! Radar Canggih hingga Pesawat Tempur Jadi Arang

Analisis SeeRight News: Mengapa Jepang Bergolak?

Sebagai sekutu terdekat AS di Asia, Jepang biasanya sangat berhati-hati dalam mengkritik kebijakan luar negeri Washington. Namun, kerasnya protes di Osaka menunjukkan bahwa masyarakat Jepang kini lebih kritis. Mereka sadar bahwa jika Timur Tengah terbakar, harga energi di Jepang akan meroket, dan keamanan jalur perdagangan maritim mereka akan lumpuh.

Protes harian ini adalah sinyal bagi PM Sanae Takaichi bahwa rakyatnya menginginkan Jepang menjadi “Jembatan Damai,” bukan sekadar “Penyokong Perang.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *